Klub Bola Menggocek IPO ke Bursa

Sabtu, 23 Februari 2019 | 09:12 WIB
Klub Bola Menggocek IPO ke Bursa
[]
Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan di bisnis riil menghelat initial public offering (IPO) itu biasa di Indonesia. Tapi, jika ada klub sepakbola mau IPO, ini baru luar biasa. Peluang IPO inilah yang akan ditempuh oleh PT Bali Bintang Sejahtera, perusahaan pemilik dan pengelola klub sepakbola Bali United.

Rencana IPO klub sepakbola sejatinya memang bukan berita baru. Sebelum ini, klub asal Bandung, Persib, pernah melontarkan rencana melepas saham di bursa. Tapi hingga saat ini, rencana tersebut tidak terlihat kelanjutannya.

Nah, niat Bali United menggelar IPO kali ini tampak lebih serius. Setidaknya, dokumen keperluan IPO klub sepakbola asal Pulau Dewata itu sudah sampai ke tangan otoritas bursa. "Datanya sudah semua, kami harapkan bisa listing April atau Mei," kata Pieter Tanuri, pemilik Bali United, kepada KONTAN, pekan lalu.

Bila IPO terealisasi, Bali United disebut-sebut mengincar Rp 200 miliar dari melepas 45% saham. Ini nilai emisi yang tidak kecil.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal OJK Fakhri Hilmi mengonfirmasi hal tersebut. Dokumen tiba di awal pekan ini. "Akan kami proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku," kata dia kepada KONTAN, kemarin.

Mencermati model bisnis

Fakhri menandaskan, syarat IPO bagi Bali United sama dengan perusahaan pada umumnya. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menambahkan, tak ada syarat administrasi secara khusus bagi calon emiten klub sepakbola untuk menggelar IPO.

Nah, investor sebaiknya mencermati model bisnis klub sepakbola sebelum memborong klub bola. Maklum, model bisnisnya nyaris berbeda dengan perusahaan yang saat ini sudah terdaftar di bursa. Berkaca pada klub sepakbola luar negeri, seperti Manchester United dan Juventus, pendapatan klub berasal dari monetisasi brand.

Klub sepakbola mengandalkan pendapatan dari iklan, penjualan merchandise, tiket dan lainnya. Kian tenar klub dan pemainnya, semakin besar pendapatan yang bisa diraih. 

Bahkan, Juventus mencantumkan pemasukan dari hak citra pemain. Tahun keuangan 2018, nilainya mencapai 102,4 juta atau lebih dari Rp 1 triliun.

Hak citra merupakan pemasukan yang diperoleh dari ketenaran pemain. Karena tenar, pemain banyak menjadi bintang iklan. Bayaran iklan ini sebagian ada yang masuk kantong pribadi pemain. Sebagian lagi masuk kantong klub.

Ini yang disebut hak citra klub. "Itu bisnis yang cukup seksi," kata Octavianus Budiyanto, Direktur Utama Kresna Sekuritas. Sekadar info, Kresna Sekuritas merupakan penjamin emisi Bali United.

Bali United sendiri memiliki beberapa pemain top, seperti Irfan Bachdim. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Klub sepakbola juga punya aset tak berwujud yang berpotensi besar memberikan pemasukan, para suporter. "Siapa, sih, orang Indonesia yang enggak hobi bola. Ini industri yang menarik dan masif," jelas Oktavianus tanpa merinci berapa target perolehan dana IPO.

Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido mengatakan, prospek IPO klub sepakbola positif. Nyatanya, banyak trader yang juga penggemar sepakbola.

Tapi, isu utang, telatnya gaji lain dan sejumlah polemik yang kerap terjadi di industri sepak bola dalam negeri masih menjadi sentimen negatif industri ini. 

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Pengguna Kripto Naik Tapi Transaksi Anjlok 34%, Pasar Kripto Berubah?
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:33 WIB

Pengguna Kripto Naik Tapi Transaksi Anjlok 34%, Pasar Kripto Berubah?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah pengguna kripto mencapai 22,69 juta pada akhir semester I-2026, melejit 43,17% YoY.

Pemerintah Dorong Infrastruktur Ekonomi Digital, Ini Imbasnya untuk DCII dan INET
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:19 WIB

Pemerintah Dorong Infrastruktur Ekonomi Digital, Ini Imbasnya untuk DCII dan INET

DCII menjadi salah satu emiten yang paling relevan karena bisnis utamanya memang berada di sektor data center.

Konsumen Beralih ke Kebutuhan Primer, Bagaimana Nasib Saham Sektor Konsumsi?
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:02 WIB

Konsumen Beralih ke Kebutuhan Primer, Bagaimana Nasib Saham Sektor Konsumsi?

​Di tengah pergerakan Indeks Penjualan Riil yang fluktuatif, sejumlah emiten konsumen justru mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan.

Asing Kembali Borong Saham BBRI, Valuasi Jadi Pemicu Repricing
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:08 WIB

Asing Kembali Borong Saham BBRI, Valuasi Jadi Pemicu Repricing

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mulai kembali menjadi incaran investor asing dalam sepekan.

GOTO Didepak dari Indeks MSCI, Butuh Katalis Material untuk Lepas Dari Level Gocap
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:35 WIB

GOTO Didepak dari Indeks MSCI, Butuh Katalis Material untuk Lepas Dari Level Gocap

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) resmi dikeluarkan dari indeks MSCI Global Standard pada rebalancing periode Agustus 2026.

Harga Emas Global Mulai Naik Lagi, Saham PSAB Dapat Katalis Positif
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 10:32 WIB

Harga Emas Global Mulai Naik Lagi, Saham PSAB Dapat Katalis Positif

Kenaikan harga emas global kembali ke level US$ 4.300 per ons troi dinilai menjadi katalis positif bagi PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:40 WIB

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim

Sejak Desember 2025, pemerintah mulai mengenakan bea keluar atas sejumlah produk emas ekspor        

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:38 WIB

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI

Pergerakan saham Grup Barito tidak semata-mata technical rebound, melainkan kombinasi dari rebalancing MSCI, aksi korporasi, akumulasi investor.

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:33 WIB

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya

Pengelompokan desil dinilai kurang tepat untuk menentukan kelas ekonomi masyarakat                  

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:21 WIB

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan

Ruang fiskal yang kian terbatas membuat pemerintah harus berhati-hati menjaga keseimbangan antara ambisi belanja, target pertumbuhan, dan utang

INDEKS BERITA

Terpopuler