Berita Market

Saham IPO Kerap Menyundul ARA, Apa yang Salah?

Jumat, 01 Maret 2019 | 18:28 WIB

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Minat perusahaan untuk go public kian bertumbuh. Tahun lalu, emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan mencetak rekor terbanyak setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Tapi, euforia penawaran perdana saham kepada publik alias initial public offering (IPO) itu dibayangi maraknya pergerakan harga tak wajar di hari perdana.

Tak sedikit saham pendatang baru menyundul batas atas penolakan order otomatis oleh sistem di BEI alias auto rejection atas (ARA). Dari 56 saham IPO, 19 saham melesat hingga terkena batas atas penolakan. Lalu, 25 saham lagi hampir menyentuh ARA. Lonjakan harga saham pun kerap berlanjut selama beberapa hari setelah listing.

Alhasil, 12 saham pendatang baru masuk kategori unusual market activity (UMA) alias masuk dalam radar khusus bursa. Bahkan, tujuh di antaranya sempat digembok alias dihentikan sementara transaksinya.

Kenaikan paling dahsyat terjadi pada saham Transcoal Pacific (TCPI). Hingga kini, gembok saham emiten pelayaran logistik dan batubara ini tak kunjung dibuka. Sejak melantai di bursa pada 6 Juli 2018 lalu, saham ini sudah tiga kali disuspensi. Pasalnya, harga TCPI telah melejit lebih dari 6.000%.

Dalam catatan KONTAN, TCPI melepas 1 miliar saham atau setara 20% dari modal disetor. Pada masa penawaran umum, 632 investor melakukan pemesanan saham. Dari total pemesanan yang masuk, ada 2 miliar saham permintaan dari polling allotment (jatah investor ritel).  Secara keseluruhan, saham ini kelebihan permintaan alias oversubscribed tiga kali.

Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan, sederhananya, pergerakan harga saham sejalan dengan hukum permintaan dan penawaran. “Kalau ritel dapat porsi kecil saat IPO, maka harga saham akan naik tinggi, karena banyak dicari di pasar sekunder. Sebaliknya, kalau ritel dapat banyak, enggak akan naik tinggi,” ujar dia.

Menurut William Hartanto, Analis Panin Sekuritas, pergerakan saham IPO tak jarang disebabkan gerakan penjamin emisi. Kenaikan harga yang tajam diduga upaya underwriter memberikan cuan bagi investor yang membeli di pasar primer.

“Tapi, sampai sekarang belum bisa dibuktikan. Aksi ‘goreng’ saham dilakukan dengan cerdik supaya tidak melanggar aturan bursa,” tutur dia.

Reporter: Dupla Kartini
Editor: Dupla Kartini


Baca juga