Sugeng Hartono, Mantan Supir yang Sukses Mendirikan Duniatex

Selasa, 23 Juli 2019 | 05:59 WIB
Sugeng Hartono, Mantan Supir yang Sukses Mendirikan Duniatex
[]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prahara melanda Duniatex Group saat anak usahanya, PT Delta Merlin Dunia Textile gagal membayar kupon obligasi dollar AS, pasca merilisnya beberapa bulan lalu. Siapa sangka, korporasi bisnis tekstil terbesar di Indonesia ini, didirikan oleh seorang mantan supir bernama Sugeng Hartono pada tahun 1974.

Tidak banyak memang cerita mengenai profil Sugeng Hartono. Sepenggal kalimat dari sebuah literatur menjadi petunjuk mengenai profesi dari suami Indriati itu sebelum mendirikan Duniatex.

Informasi tersebut berasal dari tugas akhir Dora Sparingga Suri, Mahasiswi Program Diploma III Manajemen Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS tahun 2009 berjudul "Proses Rekruitmen Tenaga Kerja Pada PT Dunia Setia Sandang Asli Textile (PT. DSSA) Karanganyar". Disebutkan pada literatur tersebut, bahwa Sugeng Hartono sebelumnya berprofesi sebagai sopir, sebelum mendirikan CV Duniatex. Masih dalam literatur yang sama, CV Duniatex didirikan berdasarkan akte pendirian No.27 oleh notaris Maria Theresia Budiasantoso pada tanggal 7 November 1974.

Sementara dalam banyak literatur disebutkan, bahwa pada tahun 1988, Duniatex mengakuisisi PT Wijayatex, sebuah perusahaan tekstil tenun. Kedua entitas ini kemudian membentuk PT Duniatex. Mengutip situs duniatex.com, pada tahun 1992 disebutkan bahwa Duniatex mencaplok PT Damatex, sebuah perusahaan di Semarang yang beroperasi di industri finishing.

Baca Juga: Gagal Bayar Obligasi Anak Usaha Duniatex Group, Siapa Berikutnya? premium  

Hingga akhirnya pada tahun 1996, tampuk pimpinan Duniatex beralih kepada Sumitro, buah hati Sugeng Hartono dengan Indriati. Ditangan Sumitro, Duniatex mengembangkan usahanya dengan mendirikan PT Dunia Sandang Abadi dan PT Delta Merlin Dunia Tekstil sekitar tahun 1998-1999. 

Tujuan dan orientasi Duniatex di bawah komando Sumitro adalah menjadi pemimpin industri dan menjadi perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Itu dibuktikan dengan prestasi Duniatex menggaet Sertifikasi Standar Mutu ISO: 9001: 2000. Pelanggan Duniatex tersebar di beberapa negara di empat benua yang berbeda; Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Namun sayang, beberapa waktu lalu S&P Global Ratings memangkas peringkat kredit obligasi dolar yang dijual oleh anak perusahaan Duniatex Group menjadi CCC-, dari sebelumnya BB-. Tantangan likuiditas yang signifikan menjadi masalah anak usaha perusahaan tekstil yang bermarkas di Solo, Jawa Tengah ini.

Baca Juga: Kredit bank pelat merah tersangkut di Duniatex Group .

S&P juga menyebut, ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok memukul pasar tekstil Indonesia. Likuiditas Duniatex dipengaruhi oleh anjloknya harga karena kelebihan pasokan kain murah impor dari China.

Baca Juga: Bank Mandiri kaget anak usaha Duniatex gagal bayar kupon obligasi

Lembaga pemeringkat internasional lainnya, Fitch Ratings, kemudian juga turut memangkas kredit Delta Merlin Dunia Textile menjadi B- dari sebelumnya BB-. Ini mencerminkan peningkatan pembiayaan kembali dan risiko likuiditas. Fitch menyebut, perusahaan ini menghadapi efek tular dari afiliasi yang dapat membatasi akses perbankan dan pasar modal.

Bagikan

Berita Terbaru

Indonesia dan Korsel Teken 10 Kerja Sama
| Kamis, 02 April 2026 | 05:15 WIB

Indonesia dan Korsel Teken 10 Kerja Sama

Korea Selatan membuka peluang kerjasama investasi dengan Indonesia melalui Danantara di berbagai bidang.

Produktivitas dan Upah Terjaga Meski Kerja WFH
| Kamis, 02 April 2026 | 05:10 WIB

Produktivitas dan Upah Terjaga Meski Kerja WFH

Pemerintah menerapkan kebijakan bekerja di tempat tinggal alias WFH bagi pekerja swasta, BUMN dan BUMD.

Arah Inflasi Tergantung Kebijakan Energi
| Kamis, 02 April 2026 | 05:05 WIB

Arah Inflasi Tergantung Kebijakan Energi

Inflasi tahunan Maret tercatat sebesar 3,48%, lebih rendah dari  bulan sebelumnya yang mencapai 4,76%

IHSG Melonjak 1,93% Setelah 4 Hari Merana, Intip Prediksi Arah Hari Ini (2/4)
| Kamis, 02 April 2026 | 05:00 WIB

IHSG Melonjak 1,93% Setelah 4 Hari Merana, Intip Prediksi Arah Hari Ini (2/4)

Meski naik sehari, IHSG masih tercatat turun 1,61% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG juga masih melemah 16,91%.​

Klaim Kesehatan Mulai Terkendali
| Kamis, 02 April 2026 | 05:00 WIB

Klaim Kesehatan Mulai Terkendali

Rasio klaim asuransi masih di atas ambang sehat. Ketahui risiko terbaru yang bisa mengancam keberlanjutan produk Anda. 

Manufaktur Tertekan, Industri Butuh Dukungan
| Kamis, 02 April 2026 | 04:55 WIB

Manufaktur Tertekan, Industri Butuh Dukungan

PMI Manufaktur Indonesia Maret 2026 turun ke level 50,1 berdasarkan survei S&P Global               

Menyoal Perpres Protokol Perubahan IJEPA
| Kamis, 02 April 2026 | 04:51 WIB

Menyoal Perpres Protokol Perubahan IJEPA

Bagi petani dan kelompok tani, Protokol Perubahan IJEPA merupakan peluang ekonomi karena membuka jalan baru.

Bayang-Bayang Tekanan Fiskal Belum Mereda
| Kamis, 02 April 2026 | 04:35 WIB

Bayang-Bayang Tekanan Fiskal Belum Mereda

Menkeu Purbaya memperkirakan tambahan anggaran subsidi sebesar Rp 90 hingga Rp 100 triliun dalam rangka menahan harga BBM

Pembayaran Manfaat Dapen Meningkat
| Kamis, 02 April 2026 | 04:30 WIB

Pembayaran Manfaat Dapen Meningkat

Tekanan likuiditas meningkat seiring penuaan peserta.                                                 

Harga Aluminium Melonjak, Siapa Pemenangnya?
| Rabu, 01 April 2026 | 17:51 WIB

Harga Aluminium Melonjak, Siapa Pemenangnya?

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah memberikan dorongan terhadap lonjakan harga aluminium global.

INDEKS BERITA

Terpopuler