Wake Up Call: Kekayaan Dunia di Genggaman Top 1%

Kamis, 06 April 2023 | 16:47 WIB
Wake Up Call: Kekayaan Dunia di Genggaman Top 1%
[ILUSTRASI. Budi Frensidy - Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI. Foto: DOK PRIBADI]
Budi Frensidy | Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal UI

KONTAN.CO.ID - Menurut Hurun Global Rich List 2023, China yang saat ini memiliki 969 miliarder telah menyalip Amerika yang punya 691 miliarder. Miliarder maksudnya orang yang memiliki kekayaan bersih minimal $1 miliar.

Dua negara ini menguasai 53% miliarder dunia. Meski demikian, Amerika Utara masih memimpin jumlah ultra HNW (high net worth) yaitu yang kekayaannya minimal $50 juta. Kekayaan sepuluh miliarder teratas Amerika mencapai lebih dari $1 triliun, lebih besar dari nilai produk domestik bruto (PDB) sebagian besar negara di dunia.

Di urutan berikut ada India dengan 187 miliarder, Jerman dengan 144 miliarder dan Inggris dengan 134 miliarder. Indonesia berada di peringkat 16 dengan 35 orang miliarder. Jumlah miliarder di dunia saat ini 3.141 orang, dengan total kekayaan mencapai $12,7 triliun.

Baik jumlah maupun nilai kekayaan telah meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Kekayaan para miliarder dunia ini umumnya dalam saham perusahaan publik.

Elon Musk memiliki 13% Tesla, Inc., Jeff Bezos punya 9,7% saham Amazon.com, Larry Ellison (nomor 4 terkaya dunia) menguasai 42,5% Oracle dan Warren Buffett dengan 38,1% saham Berkshire Hathaway Inc.

Baca Juga: Harga Emas Naik, Simak Prospek Saham Emiten Tambang Emas

Forbes di situsnya mendaftar 2.558 miliarder secara real time. Tiga terkaya minggu lalu adalah Bernard Arnault dan keluarga dengan kekayaan $226,9 miliar, Elon Musk $202,4 miliar, dan Jeff Bezos $126,4 miliar. Kekayaan Arnault setara dengan PDB negara sekelas Yunani, Qatar atau Hongaria.

Bank Dunia mencatat separuh penduduk dunia saat ini hidup dengan pendapatan di bawah $6,85 per hari. Angka ini adalah batas kemiskinan di negara berpendapatan menengah atas, sedikit di bawah median pendapatan global per orang per hari yang sebesar $7,60.

Di kelompok negara berpendapatan menengah bawah dan berpendapatan rendah, batasnya $3,65 dan $2,15. Nyatanya, masih ada 648 juta orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, yaitu di bawah $2,15 (Rp 32.250) per hari.

Lalu, ada Oxfam yang setiap tahun menerbitkan laporan ketimpangan. Tahun ini judulnya Survival of The Richest: How We Must Tax the Super-Rich Now to Fight Inequality. Dituliskan, kekayaan ekstrem dan kemiskinan ekstrem telah meningkat secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam 25 tahun terakhir.

Selama 2021 dan 2022, top 1% telah memperoleh 62% dari kenaikan kekayaan dunia, yaitu $26 triliun dari $42 triliun. Untuk satu dekade terakhir, 1% teratas telah meraup 54% kekayaan baru yang tercipta. Sedangkan 99% lainnya hanya kebagian 38% di 2021 dan 2022 serta 46% dalam sepuluh tahun terakhir.

Baca Juga: Asal Mau dan Bernyali

Oxfam menyoroti ketidakadilan pajak. Yang kaya bayar minimal di saat kelas pekerja dan menengah membayar lebih tinggi. Elon Musk, misalnya, hanya membayar 3,3% untuk pajak di 2014-2018. Donald Trump bahkan cuma membayar $750 di 2016 dan 2017, serta nihil di 2020. Sementara wiraswasta di Uganda Utara dengan keuntungan hanya $80 per bulan kena tarif pajak 40%.

Seruan Oxfam menaikkan tarif pajak orang kaya tidak hanya kali ini. Januari tahun lalu, seratus lebih jutawan ikut menandatangani dan tahun ini 205 orang ultra HNW kembali menyuarakan yang sama.

Menurut Oxfam, 1% terkaya memiliki separuh kekayaan dunia, sementara separuh termiskin hanya memiliki 0,75%. Harta 10 miliarder terkaya ternyata lebih banyak dari gabungan kekayaan 200 juta wanita Afrika. Negara-negara termiskin belanja 4 kali lebih besar untuk membayar utang daripada untuk pelayanan kesehatan. Setiap hari dompet para miliarder bertambah $2,7 miliar, lebih besar dari total penghasilan dari 1,7 miliar pekerja rata-rata.

Di mata Oxfam, memajaki orang super kaya dan korporasi besar adalah pintu mengatasi banyak krisis yang tumpang tindih. Mitos keringanan pajak untuk yang kaya akan membawa efek menetes ke bawah (trickle down) sudah harus dibuang.

Bukti empiris selama 40 tahun telah membuktikan ekonomi dunia semakin jauh dari pemerataan. Bank Dunia pun semakin sulit menggapai tujuannya memberantas habis kemiskinan ekstrem pada 2030.

Baca Juga: Japfa Comfeed (JPFA) Tebar Dividen dan Buyback Saham

Hitungan Oxfam, jika para multijutawan dan miliarder membayar pajak tahunan 5%, akan didapat $1,7 triliun. Dana sebesar ini cukup untuk mengangkat 2 miliar penduduk dunia yang berpendapatan di bawah $6,85 per hari dari kemiskinan.

Saya dari awal tidak setuju ketika Pemerintah menurunkan PPh korporasi dari 25% menjadi 22% di 2021, bahkan sampai 20% mulai 2022, sebelum dibatalkan. Tax ratio kita masih sangat rendah dan jangan ikuti negara yang tinggi tingkat kepatuhan pajaknya. Saya juga kurang sependapat jika PPN yang merupakan pajak tidak langsung justru dinaikkan jadi 11%.

Oxfam juga menuding orang super-kaya menyebabkan terjadinya krisis iklim dengan investasinya yang polutif. Mereka telah mengeluarkan karbon sejuta kali lebih banyak daripada orang rata-rata.

Jadi, orang dewasa dunia kini terbagi dua. Mereka yang berada di 1% teratas (53 juta orang di 2022) dan 99% (5,25 miliar orang) lainnya. Jika sebelumnya, ada Prinsip Pareto atau aturan 80-20, kini ada aturan 99-1 untuk distribusi kekayaan. Distribusi kekayaan jauh dari distribusi normal apalagi merata, tetapi sangat menceng ke kanan (skewed to the right).

Dengan kekayaan bersih 184 juta orang dewasa Indonesia rata-rata $5.030, hanya 2% yang memiliki harta bersih $100.000 hingga $1 juta, 0,1% dengan harta di atas $1 juta, dan hanya 1.229 orang yang ultra HNW. Kans siapa pun masuk dan bergabung dalam kelompok top 1%, dengan kekayaan bersih minimal $1,15 juta (batas di 2022) selalu terbuka. Namun, perlu motivasi kuat, kesempatan emas, keterampilan tinggi dan kerja keras.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Harga Energi Berfluktuasi, RAJA Tetap Mengantongi Laba Tinggi

Laba bersih PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tumbuh 100,44% yoy menjadi US$ 22,75 juta pada akhir semester pertama lalu.

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Gubernur BI di Zaman yang Tak Pasti

Ukuran keberhasilan gubernur BI bukan popularitas atau ketenangan pasar selama satu-dua hari, melainkan kepercayaan.

Transparansi ETF Emas
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Transparansi ETF Emas

Ingat, tanpa transparansi emas fisik dan jaminan likuiditas, maka ETF emas berisiko merugikan investor. 

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Rapor Merah IPO BUMN Membayangi Rencana Danantara Boyong Pelat Merah ke Lantai Bursa

Dari 13 BUMN dan anak usaha BUMN non-bank yang IPO sejak 2010, hanya PGEO yang sahamnya mampu bertahan di atas harga perdana.

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:16 WIB

Penjualan Ritel Juga Diperkirakan Menurun

Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 diperkirakan berada di level 224,4, turun 0,7% per bulan      

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:11 WIB

Penerimaan Pajak Baru Setengah Target

Realisasi penerimaan pajak hingga akhir Juli 2026 baru mencapai 51% dari target                     

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:07 WIB

Kasus Korupsi Ekspor CPO 15 Perusahaan Sawit Masuk Pengadilan, Kerugian Rp 7,3 T

Skandal ini menjadi sorotan tajam setelah hasil audit BPKP mengungkap angka fantastis kerugian negara yang mencapai Rp 7,3 triliun.​

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:38 WIB

Usai Dapat Kontrak Rp 22 Triliun Saham DEWA Melandai, Investor Tunggu Pembuktian

Efek kontrak Sebuku Sejaka Coal (SSC) ke EBITDA PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan sekitar 4% pada 2026.

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 08:10 WIB

Saham Duo Garuda GIAA dan GMFI Kompak Terbang, Masih Aman Buat Dikejar?

Kenaikan harga saham Grup Garuda, yakni GIAA dan GMFI dibumbui cerita soal aksi korporasi dan dukungan pemerintah.

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:44 WIB

Antara MSCI dan Indeks Kepercayaan Konsumen, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Investor juga cenderung wait and see menjelang review MSCI pada 12 Agustus. Ini katalis penting bagi arah IHSG dan aliran dana asing.

INDEKS BERITA

Terpopuler