Negara-Negara Barat Tambah Dukungan bagi Ukraina, Namun Enggan Embargo Migas Rusia

Jumat, 25 Maret 2022 | 13:13 WIB
Negara-Negara Barat  Tambah Dukungan bagi Ukraina, Namun Enggan Embargo Migas Rusia
[ILUSTRASI. Tanda pro-Ukraina di atas meja pada sesi khusus Parlemen Eropa untuk membahas respon ke Rusia, di Brussels, Belgia, Selasa (1/3/2022). REUTERS/Yves Herman]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BRUSSEL. NATO menjanjikan dukungan militer baru ke Ukraina dan mengirimkan tambahan pasukan di wilayah yang berbatasan dengan sayap timur negeri itu. Bantuan lain atas Ukraina berupa rencana Inggris dan Amerika Serikat (AS) meningkatkan sanksi terhadap Moskow. Sanksi itu akan diambil dalam tiga konferensi tinggi yang  bertujuan menunjukkan persatuan Barat melawan perang Rusia di Ukraina.

Pertemuan para pemimpin NATO di Brussel setuju untuk membantu Ukraina melindungi diri dari serangan kimia, biologi atau nuklir. Seorang pejabat AS mengatakan sekutu sedang bekerja untuk menyediakan rudal anti-kapal kepada Kyiv.

"Satu-satunya hal terpenting adalah bagi kita untuk tetap bersatu dan dunia terus fokus pada betapa kejamnya orang ini dan semua nyawa orang tak bersalah yang hilang dan hancur," kata Presiden AS Joe Biden dalam konferensi pers, merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin. "Kita harus tetap sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya bersatu."

Baca Juga: Biden Sebut Xi Memahami Masa Depan Ekonomi Negerinya Bergantung pada Negara Barat

AS berjanji untuk menambah pasokan gas alam cair ke Uni Eropa sebanyak 15 miliar meter kubik dari jumlah yang telah disepakati sebelumnya di tahun ini, demikian penuturan sumber ke Reuters. Peningkatan pasokan gas alam cair ini merupakan bentuk dukungan AS terhadap upaya blok Eropa untuk terlepas dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil Rusia.

Namun janji dukungan para pemimpin dari negara-negara yang mewakili lebih dari setengah PDB dunia itu, tidak mencakup pemberian senjata seperti yang diberi Ukraina. Janji itu jgua tidak termasuk pengenaan embargo atas produk energi dari Rusia. 

Rusia memasok 40% kebutuhan gas Uni Eropa, dan lebih dari seperempat impor minyaknya. Negara Eropa yang paling bergantung pada pasokan ini, terutama Jerman, enggan mengambil langkah yang akan memiliki dampak ekonomi yang besar.

Baca Juga: Jika Krisis Ukraina Terbukti Bebani Ekonomi, ECB Mungkin Lanjngutkan Cetak Uang

Berbicara kepada 27 pemimpin Uni Eropa melalui panggilan video pada Kamis malam, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy berterima kasih kepada mereka atas sanksi terhadap Rusia. Namun, ia mengatakan mereka datang terlambat untuk mencegah Putin menyerang pada 24 Februari.

"Sekarang kami sedang mendiskusikan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Setidaknya di sini, saya mohon, jangan terlambat," kata Zelenskiy.

Dia menyerukan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban untuk menjaga hubungan dekat dengan Putin saat Rusia menembaki kota-kota Ukraina dan berharap skeptis utama perluasan Uni Eropa - Jerman, Prancis dan Belanda - akan mengubah taktik.

Dalam langkah yang memperburuk dilema Eropa, Putin mengatakan negara-negara "tidak ramah" harus mulai membayar pasokan energi dalam rubel, yang akan menopang mata uang Rusia yang babak belur.

Perdana Menteri Slovenia Janez Jansa mengatakan "tidak ada yang akan membayar dalam rubel" dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menolak apa yang disebutnya "pemerasan".

Ukraina adalah bekas republik Soviet yang aspirasinya untuk bergabung dengan Uni Eropa dan NATO memicu kemarahan Moskow. Putin mengatakan "operasi khusus" ditujukan untuk menghancurkan kemampuan militer Ukraina dan menangkap apa yang Rusia anggap sebagai nasionalis berbahaya di sana.

Invasi itu telah menewaskan ribuan orang dan mengusir seperempat dari 44 juta penduduk Ukraina dari rumah mereka. Bom Rusia telah menghantam daerah pemukiman, sekolah dan rumah sakit di kota-kota Ukraina termasuk Kharkiv dan pelabuhan Mariupol di Laut Azov yang terkepung.

"Putin telah melewati garis merah menuju barbarisme," kata Perdana Menteri Inggris Boris Johnson saat London mengumumkan pembatasan pada Gazprombank dan Alfa Bank. "Semakin keras sanksi kami ... semakin banyak yang bisa kami lakukan untuk membantu Ukraina."

Baca Juga: Olam Akan Lepas 35% Saham Unit Usaha Agribisnis ke Pengelola Investasi asal Saudi

Kanada dan Australia juga meningkatkan sanksi terhadap Rusia pada hari Kamis ketika perang memasuki bulan kedua. Tetapi UE tidak memiliki dukungan bulat yang diperlukan untuk memberlakukan lebih banyak tindakan hukuman, dan sedang berjuang untuk menerapkan yang sudah disepakati.

NATO menolak permohonan Kyiv untuk mempertahankan langit Ukraina dengan memberlakukan zona larangan terbang dan mengatakan lagi bahwa pihaknya tidak akan mengirim pasukan ke Ukraina karena takut terseret ke dalam konfrontasi militer penuh dengan Rusia yang bersenjata nuklir.

Para pemimpin NATO mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa mereka "bersatu dan tegas dalam tekad kami untuk menentang agresi Rusia, membantu pemerintah dan rakyat Ukraina, dan membela keamanan semua sekutu."

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dunia menghadapi "krisis pangan yang belum pernah terjadi sebelumnya" yang akan lebih buruk dalam 12 hingga 18 bulan karena Ukraina, penanam utama gandum, jelai, jagung, dan bunga matahari, tidak akan dapat menanam tanaman.

Baca Juga: Pertarungan AS dan China di Usaha Pembuatan Semikonduktor Merisaukan Jepang

NATO, yang telah meningkatkan sayap timurnya menjadi 40.000 tentara yang tersebar dari Baltik hingga Laut Hitam, setuju untuk membentuk unit-unit tempur baru di Bulgaria, Rumania, Hongaria, dan Slovakia.

Aliansi itu juga memperingatkan China harus "menahan diri dari mendukung upaya perang Rusia dengan cara apa pun, dan menahan diri dari tindakan apa pun yang membantu Rusia menghindari sanksi." Uni Eropa akan mengangkat itu ketika mengadakan pertemuan puncak dengan China pada 1 April.

Biden mengatakan China memahami masa depan ekonominya lebih terkait erat dengan Barat daripada Rusia, setelah memperingatkan Beijing bahwa mereka dapat menghadapi konsekuensi karena membantu perang Moskow.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Kinerja Emiten Restoran Tak Seragam, FORE Melaju Kencang saat PZZA dan MAPB Tertekan
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Kinerja Emiten Restoran Tak Seragam, FORE Melaju Kencang saat PZZA dan MAPB Tertekan

Keberhasilan emiten restoran lebih banyak ditentukan oleh kemampuan menjaga efisiensi operasional dibandingkan mempercepat ekspansi gerai.

Net Sell Kembali Lagi, Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:34 WIB

Net Sell Kembali Lagi, Jelang Akhir Pekan, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Sejumlah analis menilai, menjelang akhir pekan, peluang IHSG melanjutkan koreksi pada hari ini masih terbuka.

Memburu Dividen, Menanti Capital Gain
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:27 WIB

Memburu Dividen, Menanti Capital Gain

Besarnya imbal hasil (yield) dividen ternyata belum cukup mengimbangi penurunan harga sepanjang tahun ini.

Andalkan Layanan Premium, Kinerja SILO Masih Moncer
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:17 WIB

Andalkan Layanan Premium, Kinerja SILO Masih Moncer

Strategi peningkatan layanan spesialis dan optimalisasi jaringan rumah sakit menjadi pendorong prospek emiten rumah sakit ini.

Masih Jadi Buruan, Saham PT Timah (TINS) Catat Net Foreign Buy Terbesar Kedua di BEI
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:16 WIB

Masih Jadi Buruan, Saham PT Timah (TINS) Catat Net Foreign Buy Terbesar Kedua di BEI

Aksi beli investor asing lebih merupakan konfirmasi bahwa sentimen pasar sedang positif terhadap saham TINS.

Purbaya Optimistis Tax Ratio Menyentuh 11% PDB
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:13 WIB

Purbaya Optimistis Tax Ratio Menyentuh 11% PDB

Tax ratio Indonesia pada semester I-2026 mencapai 9,32%, tertinggi dalam dua tahun terakhir         

Konsumsi Naik, Tapi Daya Beli Belum Pulih
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Konsumsi Naik, Tapi Daya Beli Belum Pulih

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal II-2026 melambat dibanding kuartal sebelumnya             

Pekerja Bergeser  ke Sektor Informal
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 08:03 WIB

Pekerja Bergeser ke Sektor Informal

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia turun menjadi 4,65% pada Mei 2026.

Prabowo Putuskan Pengganti Perry, Pekan Ini
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 07:59 WIB

Prabowo Putuskan Pengganti Perry, Pekan Ini

Beredar nama-nama calon pengganti Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia, termasuk Destry Damayanti

Danantara Lirik Peluang Investasi di Bandara Madinah
| Jumat, 07 Agustus 2026 | 07:59 WIB

Danantara Lirik Peluang Investasi di Bandara Madinah

Tawaran tersebut tengah dijajaki sebagai bagian dari peluang kerja sama yang dibahas Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi.

INDEKS BERITA

Terpopuler